RSS

Save our Ambalat

13 Jun

Saat ini sedang hangat-hangatnya atau bahkan bisa dikatakan panas-panasnya suhu politik antara Indonesia dan Malaysia. Hal ini disebabkan oleh pendapat pemerintahan malaysia yang menganggap Pulau Ambalat merupakan wilayah dari negara Malaysia itu sendiri.

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang Pulau Ambalat ini, mari kita mengetahui terlebih dahulu sejarah atau catatan tentang Pulau Ambalat itu sendiri. 

Ambalat adalah blok laut luas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar milik negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Blok laut ini tidak semuanya kaya akan minyak mentah.

Awal Persengketaan

persoalan yang timbul setelah pada tahun 1967 pertama kali dilakukan pertemuan teknis hukum laut antara Indonesia dan Malaysia kedua belah pihak akhirnya sepakat (kecuali Sipadan dan Ligitan diberlakukan sebagai keadaan status quo lihat: Sengketa Sipadan dan Ligitan) kemudian pada tanggal 27 Oktober 1969 dilakukan penanda tanganan perjanjian antara Indonesia dan Malaysia disebut sebagai Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia[1] kedua negara masing2 melakukan ratifikasi pada 7 November 1969, tak lama berselang masih pada tahun 1969 Malaysia membuat peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh (Pedra blanca) tentunya hal ini membingungkan Indonesia dan Singapura dan pada akhirnya Indonesia maupun Singapura tidak mengakui peta baru Malaysia tersebut. Kemudian pada tanggal 17 Maret 1970 kembali ditanda tangani Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia [2] akan tetapi, kembali pada tahun 1979 pihak Malaysia kembali membuat peta baru mengenai tapal batas kontinental dan maritim dengan serta merta menyatakan dirinya sebagai negara kepulauan dan secara sepihak membuat perbatasan maritimnya sendiri dengan memasukan blok maritim Ambalat kedalam wilayahnya yaitu dengan memajukan koordinat 4° 10′ arah utara melewati pulau Sebatik. [3] tentu peta inipun sama nasibnya dengan terbitan Malaysia pada tahun 1969 yaitu diprotes dan tidak diakui oleh pihak Indonesia dengan berkali-kali pihak Malaysia membuat sendiri peta sendiri padahal telah adanya perjanjian Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia – Malaysia tahun 1969 dan Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia tahun 1970, masyarakat Indonesia melihatnya sebagai perbuatan secara terus menerus dari pihak Malaysiaseperti ingin melakukan ekspansi terhadap wilayah Indonesia.

Aksi-aksi Sepihak yang Dilakukan

  • Tgl 21 Februari 2005 di Takat Unarang {nama resmi Karang Unarang) Sebanyak 17 pekerja Indonesia ditangkap oleh awak kapal perang Malaysia KD Sri Malaka,
  • Angkatan laut Malaysia mengejar nelayan Indonesia keluar Ambalat.
  • Malaysia dan Indonesia memberikan hak menambang ke Shell, Unocal dan ENI.
  • Berkaitan dengan itu pula surat kabar Kompas mengeluarkan berita bahwa Menteri Pertahanan Malaysia telah memohon maaf berkaitan perkara tersebut. Berita tersebut segera disanggah oleh Menteri Pertahanan Malaysia yang menyatakan bahwa kawasan tersebut adalah dalam kawasan yang dituntut oleh Malaysia, dengan itu Malaysia tidak mempunyai sebab untuk memohon maaf karena berada dalam perairan sendiri. Sejajar dengan itu, Malaysia menimbang untuk mengambil tindakan undang-undang terhadap surat kabar KOMPAS yang dianggap menyiarkan informasi yang tidak benar dengan sengaja. Terkait dengan ini, Pemimpin Redaksi Kompas, Suryopratomo kemudian membuat permohonan maaf dalam sebuah berita yang dilaporkan di halaman depan harian tersebut pada 4 Mei 2005, di bawah judul Kompas dan Deputi Perdana Menteri Malaysia Sepakat Berdamai.
  • Pada koordinat: 4°6′03.59″N 118°37′43.52″E terjadi ketegangan yang melibatkan kapal perang pihak Malaysia KD Sri Johor, KD Buangdan Kota Baharu berikut dua kapal patroli sedangkan kapal perang dari pihak Indonesia melibatkan KRI Wiratno, KRI Tongkol, KRI Tedong Naga KRI K.S. Tubun, KRI Nuku dan KRI Singa [6] yang kemudian terjadi Insiden Penyerempetan Kapal RI dan Malaysia 2005, yaitu peristiwa pada tgl. 8 April 2005 Kapal Republik Indonesia Tedong Naga (Indonesia) yang menyerempet Kapal Diraja Rencong (Malaysia) sebanyak tiga kali, akan tetapi tidak pernah terjadi tembak-menembak karena adanya Surat Keputusan Panglima TNI Nomor: Skep/158/IV/2005 tanggal 21 April 2005 bahwa pada masa damai, unsur TNI AL di wilayah perbatasan RI-Malaysia harus bersikap kedepankan perdamaian dan TNI AL hanya diperbolehkan melepaskan tembakan bilamana setelah diawali adanya tembakan dari pihak Malaysia terlebih dahulu.
  • Shamsudin Bardan, Ketua Eksekutif Persekutuan Majikan-majikan Malaysia (MEF) menganjurkan agar warga Malaysia mengurangi pemakaian tenaga kerja berasal dari Indonesia.
  • Tgl 24 Februari 2007 pukul 10.00 WITA, yakni kapal perang Malaysia KD Budiman dengan kecepatan 10 knot memasuki wilayah Republik Indonesia sejauh satu mil laut, pada sore harinya, pukul 15.00 WITA, kapal perang KD Sri Perlis melintas dengan kecepatan 10 knot memasuki wilayah Republik Indonesia sejauh dua mil laut yang setelah itu dibayang-bayangi KRI Welang, kedua kapal berhasil diusir keluar wilayah Republik Indonesia.
  • Tgl 25 Februari 2007 pukul 09.00 WITA KD Sri Perli memasuki wilayah RI sejauh 3.000 yard yang akhirnya diusir keluar oleh KRI Untung Suropati, kembali sekitar pukul 11.00, satu pesawat udara patroli maritim Malaysia jenis Beech Craft B 200 T Superking melintas memasuki wilayah RI sejauh 3.000 yard, kemudian empat kapal perang yakni KRI Ki Hadjar Dewantara, KRI Keris, KRI Untung Suropati dan KRI Welang disiagakan.

dikutip dari Wikipedia

Nah, dari uraian diatas, tentu saya sebagai rakyat bangsa Indonesia berang dengan tingkah laku pemerintah Malaysia, bukan saya atau Anda saja yang berang dengan tindakan pemerintah Malaysia saat ini, melainkan juga dengan pemimpin bangsa Indonesia, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, “Tidak akan ada kompromi atau toleransi, karena itu harga mati,” itulah yang dikatakan Presiden SBY(dikutip dari sini). 

Lalu apakah yang dapat kita lakukan? Apakah hanya sebagai penonton dan merelakan pulau kita direbut oleh bangsa asing?

Tidak, saya secara pribadi mengatakan tidak akan merelakan pulau Ambalat di kuasai oleh bangsa asing, cukup Pulau Sipadan dan Ligitan saja.

Maka dari itu, marilah saudaraku sebangsa, kita selamatkan Ambalat, banyak cara yang dapat kita lakukan, contohnya kita menyelamatkan Ambalat dengan memberikan dukungan dengan do’a. Bukankan dalam agama Islam do’a orang yang teraniaya (bangsa Indonesia yang direbut haknya oleh Malaysia) aka dikabulkan.

Let’s SAVE OUR AMBALAT..!!!

Harga MAti untuk Ambalat..!!

 
1 Comment

Posted by on 13 June, 2009 in Celotehku, Serba serbi

 

One response to “Save our Ambalat

  1. fachri

    20 June, 2009 at 15:16

    assalamu’alaikum
    Bener tuh mas, kenapa ya akhir-akhir ini Negara MALAS (Malaysia) koq semakin unjuk taring sama kita, apa mereka tidak ingat dengan masa lalu mereka yang katanya dulu saudara serumpun ma kita sampe-sampe orang dari negara kita banyak yang merantau kesana, dan banyak juga yang jadi guru disana, berarti secara gak langsung kita juga kan ikut membantu dalam perkembangan negara orangtu ya gak???. Udah dikasih jantung koq malah minta hati.. itu namanya nya takdir(tak tau diri) mentang-mentang negara selalu diam ja ya,,, makanya selalu disepelein ma mereka.
    Kita harus pertahan kan pulau kita walau hanya satu jengkal pun, karena itu milik kita dan harus tetap jadi milik kita selama nya, Dan saya harap pemerintah kita harus bisa menjaga kesatuan pulau kita, jangan sampai di ambil orang lagi. dan kalau perlu diambil tindakan yang tegas. biar gak ada lagi negara yang mengangap remeh negara kita.

    “SAVE OUR AMBALAT”

    “MERDEKA!!!”
    “Kepada seluruh masyarakat Indonesia ayo tunjukkan pada dunia siapa sebenernya Indonesia”
    Kalau diam aja APA KATA DUNIA

    weleh…weleh

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: